Minggu, 17 Februari 2019

Sebuah Awal

Hari ini cerah sekali. Cocok untuk menjemur pakaian yang sudah cukup lama di ember. Anak kos, panggil aku dengan sebutan itu.

Sejujurnya, aku merasa cukup beruntung. Bisa kuliah di keadaan ekonomi keluarga yang sebenarnya tidak memadai. Aku tidak mendapatkan beasiswa apapun, yah tentu saja. Beasiswa itu untuk anak yang pintar dan tidak mampu, aku ada di kategori kedua dan setelah puluhan berkas ku urus dengan rajinnya. Tak ada sepeserpun yang ku kantongi.

Aku merasa hidup ini cukup adil untukku, mungkin semua orang dengan ego yang tinggi sepertiku ini memang mempunyai pemikiran seperti itu.

Ini semester terakhir diperkuliahanku, tidak terasa sudah 3 tahun hidup seperti ini. Pagi ini aku masak mi favorit warga negara Indonesia, apalagi kalau bukan Indomie? dan berat putih bersih yang ku beli dengan harga standar.

Aku teringat satu dosen yang cukup tampan dan putih di kampus. Beliau membahas tentang blog saat itu, dan aku teringat kalau aku belum menyentuh blog ini sejak pertama kali ku buat. mungkin sekitar 2 atau 4 tahun lalu? Entahlah. Aku bahkan tidak tahu apa yang ingin ku tulis disini, hahahaha. Apakah tentang hidupku saja? Cerpenku yang tidak pernah selesai? Atau tentang cinta mungkin? Aku bahkan tidak tahu apakah blog ini akan dibaca oleh kalian.

Jika kalian membaca ini, selamat. Anda sudah menjadi pembaca blog ku, aku sangat berterima kasih. Sumpah, aku akan menangis terharu jika aku ingat.

Aku memiliki beberapa harapan di tahun ini, seperti punya uang yang banyak dan membahagiakan orang yang aku sayangi.

Kemarin, aku menangis dengan derasnya. Semacam kelilipan debu kasih sayang.

Baiklah. Selamat membaca postinganku yang lainnya :)