Jumat, 20 September 2019

Untuknya Yang Sudah Jauh

Waktu itu terus berputar.
Lucunya, perasaan bisa berubah seiring berjalannya waktu.
Pertama kali dia datang dulu bangetttt itu cuacanya lagi bagus-bagusnya.
Iya, dia datang sopan sekali meskipun datangnya lewat chat messenger yang jarang aku buka.
"Assalamualaikum, dik" katanya. Respon orang yang baru banget dapat pesan dari orang yang sudah lama kenal tapi ga pernah ketemu bertahun-tahun itu, biasa aja tapi penasarannya luar biasa ya. Hahaha.
Coba deh kalau sekarang dia datang lagi, ga apa-apa meskipun cuma lewat chat messenger. Pasti lebih dari 1 tetes air mata rindu itu jatuh.
Sekali lagi, perasaan dan waktu itu berhubungan dengan sangat jelas dan sepertinya mereka konsisten sekali tentang perasaan bisa berubah seiring berjalannya waktu.
Saat aku, seorang gadis yang sedang patah hatinya mendapat perhatian yang tidak biasa itu akhirnya luluh dan melemah. Setelahnya dia pergi dengan penuh tanya.
Lalu kabar angin datang, mereka bilang akulah perusak hubungannya dengan orang itu yang ternyata teman dekatku juga. Dunia sungguh sempit. Rahasia Allah memang kadang semenyakitkan itu. Awalnya aku merasa dunia ini akan runtuh, napasku biasa saja tapi dadaku sesak, air mataku juga tidak jatuh tapi mataku bengkak bahkan aku selalu merasa kenyang meskipun aku belum pernah makan berhari-hari.
Butuh waktu untuk beradaptasi tidak lagi mendengar suaranya dari kejauhan dan untuk tidak meratapi smartphone tua ini sambil menunggunya mengirim pesan.
Lalu aku membuat sebuah podcast. Tentangnya, tentang bagaimana kita bertemu, tertawa dan sakitnya aku. Allah itu Maha Adil. Setelah setahun aku jatuh sedalam itu dengan perasaan dan harapan tentangnya, aku disadarkan dengan cara seperti ini.
Rasanya lega, sedikit tergores itu bukan apa-apa.
Mereka bilang, rebut saja namanya dari doa wanita itu di sepertiga malam. Namun, aku merasa aku tidak boleh sejahat itu karena aku sendiri tidak cukup pantas untuk membuatnya tertawa setiap harinya sebagai pendamping yang terus menemaninya sampai akhir.
Ya, salahku. Harusnya aku tidak berharap setinggi itu pada manusia, terlebih lagi padanya.
Harapanku, dia akan membaca ini suatu waktu. Entah saat itu aku masih mengenangnya atau saat itu langkahnya sudah terlampau jauh untuk pergi. Yang kutahu, aku sudah terlalu terlambat untuk mengejarnya.
Lalu setelah semua itu, aku hanya bisa menyampaikan rasa terima kasih saja. Kata maaf mungkin akan membuatnya jenuh, aku terlalu sering menggunakannya.
Haruskah aku mengucapkan selamat tinggal atau semacamnya? Sebagai sebuah formalitas.
Ternyata mau bagaimanapun, tali yang putus tetap tidak bisa disambung kembali. Aku sudah mencoba mengikatnya, tapi sepertinya dia menarik talinya lebih dulu sebelum aku selesai.😏